Politik

Generasi Milenial Harus Perkuat Kemampuan Politik

IMG20180207112658

JAKARTA – Sosiolog Zully Qodir mengingatkan bahwa generasi milenial saat ini merupakan kelompok calon pemilih pemula yang sangat besar. Bahkan ia menilai 40% penduduk Indonesia yang memiliki hak pilih adalah para pemilih pemula itu.

“Saya lebih fokus pada pemuda millenials yang jadi calon pemilih pemula. 40% (pemilih) ada calon pemilih pemula,” kata Zully di acara FGD yang digelat oleh IMCC (Indonesian Muslim Crisis Centre) dengan tema “Tahun Politik, Anak Muda dan Tantangannya : Meneguhkan Kembali Nalar Keislaman dan Kebangsaan Kita” di Sofyan Hotel Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018).

Ia melihat para generasi milenial tersebut harus disiapkan untuk menjawab tantangan besar itu, yakni bukan hanya menjadi pemilih saja akan tetapi aktif terlibat dalam kancah politik di Indonesia.

Namun demikian, ia pun memberikan catatan besar bahwa para generasi muda Indonesia tersebut harus dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan yang baik agar mampu menjawab tantangan besar itu.

“Tahun politik harus kedepankan daya saing dan kualitas. Ini yang menjadi tolak ukur,” terangnya.

Menjadi Pemilih Dewasa

Selain itu, Zully ingin mengingatkan agar seluruh rakyat Indonesia mampu menjadi pemilih yang sehat. Tidak melakukan paksaan dan iliberalisasi.

“Harus kita bangun adalah demokrasi yang berkeadaban yang tidak kalah-kalahan, tidak menang-menangan dan tidak memaksakan apalagi sampai dengan kekerasan. Tidak menggunakan jalur-jalur kebencian dan diskriminatif. Kalau masih begitu maka demokrasi kita adalah demokrasi yang iliberal,” terangnya.

Kemudian ia juga menyoroti masalah-masalah demokrasi yang sempat terjadi seperti politik identitas. Bagi Zully, imbauan agar umat Islam memilih calon dari kalangan seiman adalah sah-sah saja, hanya saja cacatan besarnya adalah tidak ada diskriminasi dan pemaksaan untuk mengarahkan pemilih memilih calon yang sesuai dengan pilihannya.

“Apapun perbedaan politiknya silahkan. Tapi beda pilihan politik sampai dikafir-kafirkan itu seharusnya sudah tidak perlu terjadi lagi lah,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top