Nasional

Konflik Yerusalem, Agama atau Perebutan Tanah ?

IMG-20171228-WA0057

Jatim – Dekan Fakultas Dakwah INKAFA (Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik) Ali Shodiqin menyebut ada hal menarik bahwa aksi-aksi perlawanan dari bangsa Israel tidak murni persoalan agama karena disitu ada persoalan-persoalan politik saja dan ternyata terdapat bangsa Yahudi yang ikut melawan pendudukan bangsa Israel terhadap Palestina.

“Yang namanya fundamentalisme semua agama pasti mempunyai. Zionis itu merupakan bagian dari gerakan bangsa Israel yang ingin merebut tanah yang dijanjikan, jadi bukan hanya Islam yang memiliki fundamentalisme, namun di semua agama memiliki potensi itu,” ungkap Ali Shodiqin.

Hal itu mengemuka saat seminar kebangsaan bertema “Konflik Global Jerussalem dan Pengaruhnya di Indonesia”, yang diinisiasi Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Gresik di Joyo Hartono, Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017).

Selain Ali Shodiqin, hadir juga Penulis Buku Kyai Kantong Bolong Rizal Mumazziq, MUI Nur Fadli dan beberapa peserta dari beberapa ormas yaitu PCNU, Pemuda Muhammadiyah, SIAIDA, STIE NU Gresik, PMII Qomaruddin dan MUI Gresik.

Masih kata Ali, ada yang perlu diperhatikan bahwa di Jerrusalem tidak semua orang Yahudi menginginkan Palestina dikuasai secara keseluruhan dan tidak semuanya orang Kristen yang disana ingin menguasai.

Ali melanjutkan bahwa Jerusalem termasuk kota tertua yang disakralkan oleh 3 agama yaitu Yahudi, Kristen dan Islam dimana ketiganya mengklaim bahwa tempat itu merupakan tempat suci dari masing-masing penganut agama tersebut.

“Sehingga sampai kapanpun tempat itu akan selalu menjadi tempat yang terus diperebutkan,” tuturnya.

Sementara itu Rizal Mumazziq menyatakan bahwa setiap Presiden Amerika Serikat yang terpilih pasti membela zionis Israel dan menyerbu negara lain. Hal tersebut menandakan bahwa terbentuknya Yerussalem tidak lepas dari lobi-lobi politik.

Selain itu, kata dia, setiap Presiden negara Amerika, dalam kampanyenya selalu didukung oleh produsen/perusahaan senjata milik Israel, karena dalam melakukan penyerbuan terhadap negara-negara lain, diperlukan persenjaan.

“Mitos yang muncul dari pemikiran orang yang terlalu kuat membuat semua orang (umat yahudi, umat nasrani, dan umat muslim) ikut memperebutkan Jerussalem,” kata Rizal.

Semenjak Israel mendeklarasikan diri, kata Rizal, selalu terdapat konflik dengan negara sekitar. Dimana Israel bermula dari negara yang memiliki wilayah sangat kecil, namun saat ini menjadi sangat luas, bahkan wilayah-wilayah negara yang semula merupakan bagian dari Palestina, tetapi saat ini menjadi bagian dari wilayah Israel.

“Konflik Jerussalem juga didasari oleh konflik agama, namun konflik yang paling mendasar yaitu mengenai perebutan hak hidup dan hak tanah,” bebernya.

Dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nur Fadli mengapresiasi agenda yang digelar oleh MPII kali ini. MUI memastikan akan memberikan dukungan terhadap organisasi MPII untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

“Kami sangat optinis MPII akan menjadi bagian terpenting dalam pembangunan terutama di Gresik. Semoga MPII menjadi motor penggerak bagi para pemuda, jangan sampai nantinya menjadi organisasi yang memiliki bendera tetapi tidak memiliki tujuan,” jelasnya.

Ditempat yang sama, MPII Jatim Chafid Hamidi mengaku organisasinya sudah mulai eksis di Jatim dan telah memiliki 11 cabang, bahkan pada Januari 2018 rencananya akan dilakukan deklarasi MPII Kab. Malang.

“MPII sebagai wadah generasi ulama Indonesia yang memiliki visi kebangsaan, nilai utama adalah bagaimana merumuskan supaya pemuda memiliki sinergisitas agar mereka mempunyai nilai kebangsaan dan keagaamaan yang berujung pada pengukuhan kembali Pancasila,” sebutnya.

Dia berharap MPII Gresik dapat menggerakkan para pemudanya dengan mulai mengangkat isu yang dapat menjadi ide-ide lokalitas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top