Hukum

Proyek Maut Tol Pasuruan-Probolinggo, Mahasiswa Desak Pecat Dirut Waskita Karya

IMG-20171102-WA0049

Jakarta – Puluhan massa mengatasnamakan Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas MPU Tantulat (IMTEKS-UMT) berunjuk rasa dikantor Waskita Jakarta, Kamis (2/11).

Kedatangan mereka perihal ambruknya Tol Pasuruan-Probolinggo yang telah menelan korban baik luka-luka dan meninggal dunia. Mereka pun mendesak PT Waskita Karya harus mendapatkan sanksi sesuai kelalaian yang terjadi sesuai peraturan perundang-undamgan yang berlaku, baik pencabutan izin usaha maupun sanksi administrasi lainnya.

“Segera diberhentikan proyek tersebut sampai terlihat jelas motif ambruknya Tol Pasuruan-Probolinggo. Pecat M Choliq selaku Direktur Utama PT Waskita Karya,” tegas Koordinator aksi Fhais Lesolawang, hari ini.

Lebih lanjut, Fhais menegaskan agar PT. Waskita Karya bisa bertanggung jawab atas insiden proyek maut (Tol Pasuruan-Probolinggo). Selain itu, di juga membeberkan fenomena proyek maut lainnya diantaranya adalah peristiwa ambruknya Grider jalan tol digrati, jembatan jalan tol Bocimi di Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin Bogor.

Maka itu, kata dia, hal ini bukan persoalan yang sepele bahkan sudah menjadi unsur kebiasaan dalam proses penerapan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan Kerja (SMK3), oleh PT Waskita Karya.

“Sesuai PP RI No. 29 tahun 2000 tentang pemyelenggaraan jasa konstruksi, pasal 33 pemerintah berwenang untuk mengambil tindakan tertentu apabila pekerjaan konstruksi mengakibatkan kerugian dana atau gangguan terhadap keselamatan umum. Kelalaian ini jangan dianggap remeh,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top