Olahraga

Kebangkitan PKI? Mahasiswa: Jangan Mudah Termakan Isu

ampun

Jakarta – Presidium Aliansi Mahasiswa Pemuda Nusantara (AMPUN) menggelar diskusi tentang upaya bagaimana meng-counter paham komunis yang saat ini sedang menjadi grand issue di Indonesia.

Menurut Ketua Presidium AMPUN, El Hakim menyatakan bahwa isu komunisme dan PKI seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai dijadikan bargain kepentingan politik.

“Kami mengajak kepada Mahasiswa, bahwa paham komunis tidak boleh ada di Indonesia sesuai dengan TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966,” kata El Hakim dalam sambutannya di diskusi publik yang digelar di kafe Up2Yu, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (25/9/2017).

Sementara dalam kesempatan diskusi tersebut, Presidum Sentral Kajian Strategis Mahasiswa, Chairullah Talaohu menilai menilai bahwa isu kebangkitan PKI yang saat ini dihembuskan tersebut justru memiliki efek samping bagi keberlangsungan berbangsa dan bernegara. Maka dinilai isu yang merupakan catatan sejarah kelam Negara Indonesia yang tidak boleh sampai terulang lagi itu agar dikikis.

“Paham komunis adalah paham yang tidak boleh berada di Indonesia, mencounternya adalah gampang, tinggal kita jangan ikut membesar-besarkan isu itu. Jangan dibahas-bahas lagi,” kata Chairullah.

Selanjutnya, Mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) tersebut pun meminta agar Pemuda dan elemen Mahasiswa Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi dengan informasi dan berita yang tidak benar, atau hanya untuk kepentingan memecah belah bangsa saja.

Seharusnya menurutnya, Mahasiswa harus peka dan dapat membaca agenda utama dalam berbagai isu terkhusus lagi isu-isu nasional yang sangat membutuhkan gerakan Mahasiswa yang kritis.

“Bahwa kita harus benar-benar paham apa yang memang sebenarnya. Apakah isu ini betul-betul bagus atau tidak untuk bagaiamana Mahasiswa bergerak dan berfikir. Inilah yang harus kita kaji bersama-sama,” pungkasnya.

Sementara itu, aktivis Mahasiswa yang karib disapa Hayum ini pun meminta agar Mahasiswa tetap berada pada kelasnya, yakni sebagai agen perubahan dan kelompok terdidik yang kritis, bukan mahal menjadi kelompok yang mudah termakan provokasi dan enggan mengkaji persoalan untuk menyikapinya secara benar dan bijak.

“Mahasiswa tetap memegang erat apa yang menjadi tanggungjawabnya sebagai kelompok atau kelas yang berada di kelas atas. Mengontrol dan mengkaji berbagai isu yang saat ini muncul. Mengontrol kebijakan pemerintah secara kritis dan solutif,” tuturnya.

Sementara dalam kesempatan yang sama pula, Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jabodetabek-Banten, Arief Wicaksono mempersilahkan Mahasiswa agar tetap bersikap dan bertindak kritis. Namun ia memberikan catatan agar apapun gerakan Mahasiswa Indonesia tidak berangkat dari hasil provokasi semata.

“Saya berpesan kepada kawan-kawan, apapun yang terjadi bukan karena kita terprovokasi,” kata Wicaksono.

Salah satu upaya untuk menangkal provokatisme dalam gerakan, Wicaksono pun meminta agar apapun informasi yang diperoleh Mahasiswa baik dari media digital maupun media audio visual lainnya agar bisa disaring dengan baik dan benar.

“Seluruh informasi yang didapat bisa disaring dan dicerna dengan baik, sehingga bisa menjadi acuan bagaimana kita bersikap dan bertindak,” pungkasnya.

Pembicara selanjutnya adalah Ketua Komite Nasional Garda Nawacita, Abdullah Kelrey. Dalam keterangannya, ia meminta kepada seluruh Mahasiswa agar tetap mengedepan sikap kritisnya, namun tetap bisa menjaga independensinya agar tidak mudah dikontrol dan dibeli gerakannya.

“Mahasiswa tidak boleh itu asal terprovokasi, pihak ini bilang ini dan itu kalian hanya ikut-ikutan saja. Mahasiswa harus bisa membaca gerakan dan isu yang berkembang, sehingga tidak asal up-to-you saja dan masa bodoh,” ujar Kelrey.

Ia juga menyinggung soal rencana gerakan Aksi 299 yang rencananya akan digelar oleh Presidium Aksi 212 pimpinan Slamet Maarif di DPR RI pada hari Jumat (29/9/2017) mendatang. Menurut Kelrey, gerakan yang menggandeng isu PKI, Perppu Ormas, tolak pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut sudah memiliki muatan politis.

“Rencananya besok apa, ada aksi 299 itu, itu sudah bermuatan politik praktis. Saran saya, Mahasiswa tidak perlu lah ikut-ikutan. Mahasiswa harus kritis tapi tetap cerdas harus bisa melihat isu-isu dengan baik sehingga bisa bijak bersikap,” tukasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top