Politik

Akademisi: Perkuatan NKRI Presiden Kenakan Pakaian Adat

wow-pakaian-adat-jokowi-di-sidang-tahunan-mpr-curi-perhatian-netizen-U9j81rZolv

YOGYAKARTA – Pakaian adat yang dikenakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat menyampaikan Pidato Kenegaraan tahun 2017 di Kompleks Parlemen, Jakarta, dinilai menjadi simbol penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Bidang Sosiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Mahyuddin dalam siaran persnya menyikapi penampilan menarik yang disajikan Presiden Jokowi dan Wapres JK saat penyampaian Pidato Kenegaraan, di Kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (16/08/2017).

“Penampilan presiden saat pidato kenegaraan kali ini sarat makna dan simbol yang ingin dikomunikasikan pimpinan negara ini, kepada seluruh masyarakat Indonesia,” ujar dia.

Pasalnya, kata dia, tidak ada tindakan sosial yang dilakonkan setiap individu tanpa pesan-pesan makna simbolik yang ingin disampaikan dalam berinteraksi dengan orang lain. Tujuannya, agar masyarakat belajar dan mampu menerima berbagai bentuk kelebihan dan kekurangan sesama masyarakat Indonesia.

Selain itu, ucapnya, presiden dan wakil presiden juga ingin menyampaikan ke khalayak umum (public) bahwa sejatinya sebagai bangsa yang majemuk secara sosial dan budaya, setiap warga masyarakat harus tetap menjunjung tinggi keharmonisan dalam perbedaan.

“Kita ketahui bahwa artikulasi etnisitas dan sentimen primordial (kedaerahan) tidak luput mendera negeri akhir-akhir ini. Sebagaimana kita menyaksikan fenomena sosial hari-hari terakhir, di mana muncul kecenderungan anggota masyarakat membela suatu sekte atau kepercayaan kelompoknya, memisahkan diri dari masyarakat terutama pada orang yang berbeda, dan mementingkan kelompoknya sendiri  yang mengancam nilai-nilai kebersamaan,” papar Mahyuddin yang juga penerima beasiswa atau awardee dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan itu.

Terus Bersinergi

Karenanya, tambah dia, melalui panggung ini Presiden seakan menyiratkan sekaligus mengajak setiap warga masyarakat untuk tetap saling bersinergi dalam dekapan sikap penuh penghargaan terhadap keberagaman budaya. Perbedaan agama, bahasa, budaya bahkan ras tidak kemudian menjadi batas pemisah di antara sesama masyarakat Indonesia.

“Tetapi sebaliknya perbedaan tersebut sejatinya kita jadikan sebagai aset bangsa untuk mencapai cita-cita pembangunan nasional. Keberagaman identitas kebudayaan adalah satu kesatuan identitas bangsa yang perlu kita rawat untuk bersinergi mencapai cita-cita bersama,” jelas dia.

Pengelolaan Kesan

Mahyuddin menambahkan, pengelolaan kesan (impression management) yang baik dan apik dari Presiden Jokowi tentu perlu diapresiasi dengan baik. Karena situasi yang diinginkan oleh jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikan perhelatan kenegaraan di panggung parlemen itu, memang menghendaki kondisi demikian. Artinya, tidak ada masyarakat yang ingin hidup dalam bayang-bayang konflik sosial hanya karena perbedaan identitas sosial budaya. Karena itu, perlu dipahami bahwa pertentangan antar kelompok etnis maupun agama yang terjadi hari ini tidak jarang dihembuskan oleh masyarakat itu sendiri, yang sengaja memanfaatkan isu tersebut untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Sehingga yang muncul adalah keretakan sosial yang mengancam bangunan kokoh keharmonisan masyarakat kita,” kata dia lagi.

Lebih jauh, lanjutnya, pemerintah juga masih memiliki pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan. Masyarakat Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke di seantero nusantara masih menuntut permainan dan pertunjukan yang serba sempurna (perfect) untuk menuntaskan persoalan korupsi, kemiskinan, serta penegakan hukum yang berkeadilan di negeri ini.

“Membangun NKRI melalui pencitraan positif juga harus dilakukan dengan kinerja aktif pemerintah menyelesaikan hal-hal mendasar yang dinantikan masyarakat. Seperti persoalan korupsi, kemiskinan, dan penegakan hukum yang berkeadilan,” tandas Mahyuddin.

Ciri Khas Bangsa

Senada dengan itu, Peneliti Bidang Ekonomi Pertanian dari UGM, Marina menilai, pengenaan pakaian adat oleh Presiden dan Wakil Presiden itu, juga menunjukkan konsistensi pemerintah dalam menjaga serta memelihara ciri khas bangsa Indonesia. Sebagaimana sektor pertanian juga merupakan salah satu ciri khas Indonesia sebagai negara agronomis.

“Beberapa era yang lalu, Indonesia diakui dunia internasional dengan ciri khas pertaniannya. Bahkan banyak warga negara sahabat datang ke Indonesia untuk belajar tentang cara-cara bercocok tanam. Itu artinya, Indonesia punya ciri khas di mata dunia internasional soal pertanian,” terang Marina.

Sementara itu, lanjutnya, pengakuan dan trust atau kepercayaan yang menjadi nilai-nilai Indonesia, kini memudar dari pribadi-pribadi anak bangsa. Dan kini, dengan menggunakan pakaian adat, Presiden dan Wakil Presiden menegaskan perlunya pengakuan dan kepercayaan dari seluruh elemen bangsa terhadap keberagaman di Indonesia.

“Artinya, pemerintah dengan tegas menyatakan keberagaman masyarakat Indonesia adalah ciri khas bangsa yang harus dipelihara dan ditingkatkan,” tandas Marina.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

To Top