Opini

Dicari Pemimpin (yang) Menyempal

Pemimpin 2

Oleh: Abdul Ghopur

Sampai hari ini, Indonesia adalah negeri tanpa nasib (fateless nation). Karena itu, walau zaman sudah berganti rupa tetapi perubahan mendasar tak kunjung kita temukan. Kepemimpinan nasional tak jua diisi oleh manusia-manusia yang memiliki sifat kerakyatan, berwatak crank dan asketis-profetik. Sebaliknya, para pemimpin di negeri ini terlalu takut untuk bertindak secara revolusioner demi penyelamatan bangsa dan rakyatnya. Terlalu sulit menemukan pemimpin yang tindakannya menyempal dari keumuman, berani, tegas, pantang menyerah, dan wibawa. Kita tak memiliki pemimpin yang mencintai ketaklaziman: intelektual, spiritual dan kaum miskin. Dengan bahasa lain, kita sedang mengalami krisis kepemimpinan nasional. Padahal, krisis kepemimpinan nasional akan melahirkan penyakit-penyakit turunan lainnya; perekonomian nasional tak kunjung membaik, kemiskinan, pengangguran dan kekerasan (separatis dan teroris) makin merajalela adalah dampaknya.

PemimpinPertanyaannya, apa sesungguhnya produk terbesar pemerintahan era reformasi? Rasa terasing. Mungkin jawaban ini terlalu berlebihan. Tetapi faktanya, banyak laporan di media bahwa orang-orang mulai terasing dari negara, terasing dari lingkungannya, terasing dari nilai-nilai dasar kemanusiaannya, terasing dan tercerabut dari akar tradisi budayanya. Terasing karena ketidakhadiran pemerintah di tengah deru penderitaan rakyat yang tak kunjung berhenti. Sebab, pemerintah hasil reformasi ternyata belum memiliki rencana besar yang aplikatif buat bangsa ini agar sampai pada cita-cita dasarnya. Dengan kata lain, pemerintah hasil reformasi tidak layak menyandang gelar pemerintahan yang reformis apalagi pemerintahan yang menegakkan negara amanat dan cita-cita Proklamasi. Gelombang besar reformasi politik seakan baru menghasilkan “mediokrasi/kedangkalan” berpolitik dan “political broker” bengis. Yang terjadi hanyalah satu tindakan pemujaan terhadap kedangkalan dan hal-hal yang remeh-temeh. Pemujaan terhadap sesuatu yang tidak menggunakan pikiran hasil dari pengembaraan batin yang mendalam.

Bangsa Medioker
Kini, di tengah situasi yang karut-marut dan demoralisasi yang dalam terhadap kehidupan kebangsaan kita, para elit politik mulai dari eksekutif, legeslatif sampai yudikatif (yang di dalamnya juga terdapat orang-orang muda) tengah mengalami pendangkalan berpikir dan moral (mediokrasi). Segala tindak-nalar mereka absen dari rambu moral, hukum dan tata nilai yang ada. Semuanya asal instant saja. Apa buktinya? Tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang menerima suap miliaran rupiah dan Patrialis Akbar yang juga petinggi MK dan mantan Menteri Hukum dan HAM era Presiden SBY, adalah salah-satu buktinya! Konon, MK adalah satu-satunya lembaga negara yang paling bersih dan menjadi harapan terakhir dalam penegakan hukum di negeri ini selain KPK.
Apa maknanya? Banyak orang terutama elit politik memiliki kecenderungan untuk mengambil jalan pintas. Paradigma hidup mereka sangat taktis-pragmatis sesaat dan jangka pendek semata. Mereka tidak memiliki pandangan jauh ke depan, dengan kata lain tidak visioner. Semua orang ingin cepat kaya tanpa harus kerja keras dan melalui cara yang benar! Berharap akan terjadi sebuah transformasi diri dari hidup yang ”biasa” menjadi ”tidak biasa/sejahtera.” Dari yang ”miskin” menjadi tidak terlalu ”miskin/kaya”. Harapan akan transformasi diri pribadi inilah telah menanamkan sikap pragmatis dan mental korup dalam benak elit politik di negeri ini. Semangat serta etos kerja keras sudah tidak lagi jadi budaya bangsa. Justru, para elit pemangku jabatan publik ramai-ramai melakukan korupsi berjama’ah.
Sedemikian parahnya, korupsi menjadi momok yang amat memalukan dan memperihatinkan sekaligus mengerikan bagi negeri ini. Setiap hari kita disuguhkan sajian amat tak bermoral oleh para penyelenggara negara utamanya Dewan Perwakilan Rakyat yang notabene adalah wakil rakyat yang harus memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat. Tapi apa lacur, DPR malah menggerogoti uang negara yang sejatinya berasal dari keringat dan pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Inilah, ketika etos kerja keras tidak dibudayakan, maka korupsi menjadi jawabannya. Mengerikan!
Perilaku elit politik kita makin hari makin memuakkan nurani saja, tanpa ada niatan untuk berubah! Kita menyaksikan bagaimana sesama mereka saling ”mebunuh” dan membuka aib sesama. Mereka terus berebut kue kekuasaan yang menggerus nurani dan akal sehat mereka. Demi kekuasaan yang sesaat, mereka rela mengebiri dan mengorbankan apa saja, termasuk hak rakyat kecil untuk hidup layak. Demi hidup yang mewah dan kesenangan pribadi mereka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa rasa malu sedikitpun. Tak jarang dari mereka yang terang-terangan melakukan korupsi, mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, program studi banding ke luar negeri yang banyak menguras kocek negara, sampai praktik jual-beli hukum.
Sementara di saat yang bersamaan, perbaikan kehidupan rakyat ditelantarkan begitu saja. Rakyat dibiarkan miskin dan terlunta-lunta menanti nasibnya yang tak kunjung pasti. Kemakmuran dan kesejahteraan semakin menjauh dari relung kehidupan mereka. Kelaparan karena tak bisa membeli makan, putus sekolah kerana tak punya biaya, menjadi pengemis di jalan hanya demi sesuap nasi, menjadi pemandangan rutin yang sangat memilukan dan tak sedap dipandang mata kita.

Politik sebagai seni
Oleh karenanya, sikap mengedepankan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi maupun golongan, menolong kaum papa yang tak berdaya menjadi agenda penting ke depan. Menyikapi perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai musuh yang harus disingkirkan! Membangun rasionalitas berpolitik yang mengedepankan etika moral dan akal sehat. Menjauhkan diri dari sikap tamak harta dan benda yang menghalalkan segala cara. Berpolitik luhur untuk membangun peradaban bangsa yang mulia. Tanpa harus menghancurkan sesama kita.
Dengan rasionalitas, etika, dan moralitas, politik akan terlihat lebih seperti seni, tidak kejam dan busuk yang selama ini terlihat. Kasantunan, kedewasaan, dan keluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tanpa itu semua, nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta. Maka dari itu, mulai saat ini juga, baik elit politik maupun para pemuda/mahasiswa wajib mengedepankan moral-etik berpolitik apalagi berbangsa. Karena politik tanpa rasionalitas moral dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat jahat. Sebaliknya, moral saja tanpa diimbangi kesadaran politik (kerakyatan dan kebangsaan) hanya akan menjadi tatan kehidupan yang sia-sia.
Atas beberapa alasan itulah, pentingnya upaya mendialogkan kembali diskursus tentang peran–eksistensi dan kepemimpinan pemuda (yang berani menyempal dari kelaziman) dalam konteks pembangunan Indonesia dengan menguatkan nilai-nilai kerakyatan secara luas agar partisipasi dan kemanusiaan dapat dirayakan dengan sedikit harapan. Agar pula tidak paria di negara merdeka, tetapi juga tidak fobia terhadap negara dan kapitalisme.

Kepemimpinan kaum muda
Pemuda, sesungguhnya bukan sekadar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat saja. Sebab mereka memainkan peranan penting dalam perubahan sosial. Tapi, jauh daripada itu, pemuda merupakan konsepsi yang menerobos definisi pelapisan sosial tersebut, terutama terkait konsepsi nilai-nilai. Sejarawan Taufik Abdullah (1995) memandang pemuda atau generasi muda adalah konsep-konsep yang sering mewujud pada nilai-nilai herois-nasionalisme. Hal ini disebabkan keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah, tetapi lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural. “Pemuda harapan bangsa,” “pemuda pemilik masa depan bangsa,” dan sebagainya, betapa mensaratkan nilai yang melekat pada kata “pemuda.” Pernyataan menarik di atas, dalam konteks Indonesia sebagai bangsa, menemukan jejaknya. Sebab, berbicara sosok pemuda memang identik dengan nilai-nilai dan peran kesejarahan yang selalu melekat padanya. Sosok pemuda selalu terkait dengan peran sosial-politik dan kebangsaan. Ini dapat dipahami mengingat hakikat perubahan sosial-politik yang selalu tercitrakan pada sosok pemuda. Citra pemuda Indonesia tidak lepas dari catatan sejarah yang telah diukirnya sendiri.
Taufik Abdullah pernah menyatakan, betapa peristiwa-peristiwa besar di negeri ini dilalui dan digerakkan oleh pemuda. Sejarah mencatat bahwa Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, merupakan rekayasa sosial-politik para pemuda Indonesia dalam menggerakkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia melawan penjajah kolonial. Tonggak penting itu direkatkan lagi oleh Ikrar/Sumpah Pemuda, yang menegaskan kesatuan niat, kebualatan tekad dan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa nasional Indonesia, pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Lalu, semangat nasionalisme tersebut mengkristal dan menemukan momentumnya saat diproklamirkannya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarano dan Hatta.
Tidak mengherankan jika kemerdekaan Indonesia tak lepas dari gerakan “revolusi kaum muda.” Sebagaimana dinyatakan oleh Taufik Abdullah di atas, prestasi dan citra kaum muda Indonesia begitu menyejarah sepanjang berdirinya Republik Indonesia. Pergantian rezim ke rezim di Indonesia juga melibatkan pemuda. Sedemikian melekatnya nilai-nilai kepeloporan dan semangat kebangsaannya, tentu saja ini menjadi beban sekaligus tanggungjawab moral sosial pemuda Indonesia ke depan.
Sering didapati dalam banyak artikel (tulisan) dan kita sendiri bahkan menyaksikan peran partisipasi pemuda yang sangat besar dalam membangun, menyumbang, dan mendukung perkembangan bangsa. Dengan demikian sesungguhnya, diskursus kepemudaan tidak semata terkait persoalan politik. Namun, memiliki spektrum yang lebih luas, mencakup seluruh dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pernahkah kita mendengar slogan; “sekarang pemuda, besok akan menjadi pemimpin” Pernyataan ini mendorong kita untuk memperhatikan eksistensi pemuda di masa lalu, kini dan mendatang. Dengan mengetahui semua fakta, kita sadar, betapa pentingnya peran kesejarahan pemuda untuk masa depan “republik yang sedang menunggu ini.” Pemuda dianggap lambang semangat api revolusi yang tak pernah redup. Lambang keberanian dan semangat yang tak pernah pudar. Pemuda melambangkan kekuatan yang tak pernah hancur! Atas alasan ini, presiden Soekarno suatu ketika pernah berkata; “berikan padaku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia.” Dari pernyataan ini kita dapat menyimpulkan bahwa Soekarno lebih mengapresiasi pemuda ketimbang orang tua. Mengapa? Karena mereka memainkan peranan yang besar dan mempunyai potensi serta energi yang besar dalam mengerakkan suatu perubahan sosial.

Revolusi mati muda
Namun, melihat realitas pemuda Indonesia yang ada kini, sungguh jauh panggang dari api. Gagasan dan visi reformasi yang diusung kaum muda dengan sendi moral, ide dan gagasan bersih pada akhirnya harus tunduk pada takdir yang tidak bisa dielakkan. Ia menemukan ekspresinya dengan menjelma menjadi rutinitas dan tanpa (realisasi) harapan. Ia menerima kenyataan-kenyataan riil yang menyeretnya secara kuat untuk tenggelam. Pesonanya memudar, kharismanya melarut dan daya revolusinya mati muda.
Akibatnya, sambil menunggu drama politik dan peruntungan antara rakyat dan penguasa, eksekutif dan legislatif, penambahan umur kita menyela untuk menandai semakin rentanya republik ini. Renta bagai zombi, tanpa gambaran bernas masa depan, hanya sedikit cercah harapan. Apa mau dikata, melalui Pemilu 2014 yang telah dilewati ini, kita memang kehadiran drama realis politikus bersih yang terulang tanpa bisa dielakkan; kalah mengenaskan. Dari rezim ke rezim, dari pemilu ke pemilu, drama dan pertarungan atas nama moral bersih berputar tanpa skenario baru sehingga tidak menghasilkan kejayaan yang elegan. Sebaliknya, di Pemilu Kada 2017 ini muncul politikus dengan wajah buram, menguasai banyak medan pertempuran, tapi kalah telak di akhir perang; banyak di mana-mana, tetapi selalu tak mendapat apa-apa. Dari waktu ke waktu, drama dengan modal moral bersih kalah oleh lupa karena miskin kader dan agenda. Meninggalkan ingatan untuk menjejer luka-luka baru yang luka lamanya tak tersembuhkan. Ironis!

Kaum muda memimpin?
Agar tidak panjang kutukan dan cita-cita reformasi tidak dilupakan, diskursus kepemimpinan perlu dikaji ulang. Yaitu sebuah pencarian pemimpin yang bisa menjalankan amanat reformasi, menjalankan kewarasan dan asketisme serta pembaruan. Dan itu, bukan dari kaum tua atau elit sekarang. Kaum tua dianggap tak lebih dan tak bukan “anak kandung dan anak ideologis” orla dan orba yang telah menyengsarakan rakyat. Mereka gagal membawa kita pada kehidupan merdeka, di mana rakyat berdaulat. Mereka tak akan sanggup menegakkan hukum untuk semua. Sebalinya tebang pilih adalah langgamnya.
Di luar itu semua, alasan kepemimpinan kaum muda adalah; Pertama, evaluasi terhadap jalannya reformasi yang disimpulkan “mati muda.” Kedua, munculnya distrust society yang semakin hari semakin menguat di masyarakat yang ditujukan pada sejumlah elit. Baik elit dan tokoh partai, agama, pemerintah maupun akademisi. Ketiga, kesadaran bahwa kaum muda adalah “penanggungjawab” yang paling sah terhadap reformasi dan bangsa ini. Ketiga alasan ini kemudian merangkumkan kaum muda untuk membentuk satu historical block yang menjalankan beberapa agenda.
Momentum Pemilu Kada 2017 ini adalah saat yang paling tepat bagi pemuda Indonesia untuk banting setir dari paradigma kepemimpinan para elit politik “lama” yang kolot dan kolonial ke arah baru paradigma kepemimpinan yang progresif, revolusioner dan visioner. Tentunya kepemimpinan yang mengedepankan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi, menolong kaum papa yang tak berdaya. Kepemimpinan yang menyikapi perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai musuh yang harus disingkirkan! Kepemimpinan yang mampu membangun rasionalitas berpolitik yang mengedepankan etika moral dan akal sehat. Menjauhkan diri dari sikap tamak harta dan benda yang menghalalkan segala cara. Berpolitik luhur untuk membangun peradaban bangsa yang mulia tanpa harus menghancurkan sesama kita. Kepemimpinan nasional yang diisi oleh manusia-manusia yang memiliki sifat kerakyatan, berwatak crank dan asketis-profetik. Pemimpin negeri yang tak takut untuk bertindak secara revolusioner demi penyelamatan bangsa dan rakyatnya. Pemimpin yang tindakannya menyempal dari keumuman, berani, tegas, pantang menyerah, dan wibawa. Pemimpin yang mencintai kataklaziman: intelektual, spiritual dan kaum miskin.
Hanya kaum muda yang akan sanggup menjalankan misi tersebut. Hanya kaum muda yang sungguh-sungguh bekerja pada kemajuan bangsa. Betapa peristiwa-peristiwa besar bangsa ini dilakukan oleh kaum muda, kata Pramudya Ananta Toer. Bukan brutus apalagi avonturir politik. Karena itu, memilih kaum muda untuk memimpin bangsa ini bukan mimpi di siang bolong. Sebaliknya kewajiban bersama agar Indonesia tidak tenggelam oleh amuk kejahatannya sendiri. Yang muda, pembaharu, sipil dan berdedikasi pada rakyat luas harus maju. Siapa tahu ini saatnya![]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB);
Intelektual Muda NU
Menulis Buku: SUMBER DAYA ALAM INDONESIA SALAH KELOLA! ‘Kritik Terhadap Pengelolaan SDA Rezim Pascakolonial”, 2012, LTN PBNU &
QUO VADIS NASIONALISME? ‘Merajut Kembali Nasionalisme Kita yang Terkoyak’ 2015, Bina Sumber Daya Mipa

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top