Internasional

Mengapa Upaya Kudeta Militer Turki Terbilang Gagal ??

Kudeta Militer Turki

Sekitar 30 tentara Turki yang menjadi bagian dari upaya kudeta menyerah pada polisi, Sabtu (16/7/2016) waktu setempat. Sejumlah foto yang tersebar di media sosial menunjukkan beberapa dari tentara itu digiring oleh polisi dengan tangan terikat dan kepala tertunduk.

Upaya tentara menjatuhkan pemerintahan Turki gagal, meski Perdana Menteri Turki, Binali Yildrim, menyebut 161 orang tewas, 1.440 terluka, dan 2,839 tentara ditahan dalam aksi kudeta yang berlangsung di Taksim Square malam itu.

Seperti ditulis dalam laporan BBC, saat awal percobaan kudeta, Presiden Turki, Tayyip Erdogan sedang berada di luar kota. Tak ada yang tahu keberadaannya untuk beberapa saat. Laporan menyatakan dia tengah berlibur di Aegean Resort, wilayah terpencil Turki. Namun, dia kemudian terbang ke Bandara Istanbul dan memberikan pernyataan pers.

Kudeta Militer Turki

Kudeta Militer Turki1

Saat Erdogan sampai di Istanbul, ia langsung merebut kembali kontrol dan didukung oleh tokoh militer senior. Setelah itu, kudeta dikalahkan atas kehendak rakyat Turki. Rakyat Turki kembali merebut bandara Ataturk dari militer termasuk stasiun TV dan radio.

Dilaporkan Reuters, Erdogan, yang muncul di antara pendukungnya di bandara Ataturk, mengatakan tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan solidaritas dan persatuan negara.

Walau pemerintah Turki menyatakan kudeta militer telah gagal, namun situasi di Istanbul dan Ankara masih genting. Tentara dilaporkan menyerbu masuk ke kantor media, seperti CNN Turki.

Sebelumnya, CNN Turki menyiarkan wawancara dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan menggunakan aplikasi FaceTime di iPhone. Dalam wawancara tersebut, Erdogan menyerukan rakyat Turki melawan kudeta, memicu ribuan orang turun ke jalan.

Bangunan Dogan Media Center juga merupakan kantor dari beberapa media lainnya, seperti koran Hurriyet Daily News dan stasiun Kanal D.

Di awal upaya kudeta, tentara menguasai stasiun televisi pemerintah, TRT, dan mengumumkan jam malam serta darurat militer. Dalam siaran tersebut, militer mengatakan pemerintah Erdogan telah mengikis demokrasi dan hukum sekuler di Turki.

Lalu, apa yang menyebabkan upaya kudeta militer itu gagal?

Pengamat politik internasional, Arya Sandhiyudha, dalam lansiran Okezone.com menganalisasi beberapa penyebab gagalnya kudeta tersebut.

Pertama, polarisasi faksi. Ketika tahun 2015, atau tepatnya pada saat Pemilihan Presiden Turki, Partai Keadilan dan Pembangunan menang dengan 49,5 persen yang membuat negara ini sangat terpolarisasi antara kaum Sekuler, Islamis, Kurdi, dan Nasionalis.

Turki memiliki sejumlah oposisi terhadap Islam yang menentang agenda politik berhaluan neo-Ottoman dalam arah kebijakan luar negeri Erdogan, tapi di sisi lain mereka pendukung Presiden yang absah secara demokratis.

Selain itu, ada banyak orang Turki yang anti-Erdogan belum tentu juga anti-kudeta, karena mengingat trauma ketidakstabilan ekonomi dan politik di masa lalu ketika kudeta terjadi di Turki.

Kedua, upaya menggeser aktor utama: Erdogan. Menggunakan momentum ketika Erdogan berada di luar kota, tentara Turki mengepung markas Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Istanbul.

Kelompok antipemerintah mengabaikan fakta, meskipun berada di luar Ankara dan Istanbul, Erdogan tetap bisa menggalang kekuatan dari para pendukungnya bermodalkan ponsel dan stasiun televisi swasta.

Alhasil, masyarakat sipil menanggapi seruan tersebut dan turun ke jalan. Lautan manusia tersebut akhirnya membuat bimbang sebagian besar pasukan pemberontak.istana ketika tank mendekat.

Ketiga, pasukan antipemerintah lebih banyak mengandalkan kekuatan udara untuk menekan rezim. Hal ini terlihat dari rekaman video amatir yang menunjukkan sejumlah jet tempur Turki terbang rendah pada Jumat malam.

Pasukan antipemerintah seakan mengabaikan kemungkinan reaksi dari masyarakat sipil dan pendukung Erdogan di jalan-jalan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

To Top