Ekonomi

Buruh Sebut Rezim Pemerintahan Jokowi-JK Tukang Kutip Rakyat

Pentolan Buruh dan Pengusaha Muda Hadiri Diskusi "Plus Minus Tapera" di Merdesa Coffie

Beritaasatu – Undang-Undang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) bertujuan untuk menghimpun dana murah perumahan yang terjangkau bagi masyarakat dan ini seharusnya memberikan kemudahan dalam mengakses biaya perumahan. Namun, Menurut Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) Rudi HB Damman mengaku kurang sependapat dengan proses pembiayaan itu dibebankan kepada para pekerja dan pengusaha. Diketahui, pekerja 2,5 persen dan pengusaha 0,5 persen.

“Sebenarnya dalam pandangan saya, kebutuhan rakyat sangat mendesak dan sangat ingin memiliki tempat tinggal yang layak dan murah. Namun beban potongan-potongan ini justru memberikan beban bagi rakyat terutama buruh dan pekerja,” tegas Rudi, Selasa (1/3/2016).

Pentolan Buruh dan Pengusaha Muda Hadiri Diskusi "Plus Minus Tapera" di Merdesa Coffie

Pentolan Buruh dan Pengusaha Muda Hadiri Diskusi “Plus Minus Tapera” di Merdesa Coffie

Koordinator Front Perjuangan Rakyat (FPR) itu menyayangkan sikap pemerintah yang justru memberikan beban ditengah-tengah kebutuhan riil masyarakat terus berjalan. Ia pun melihat dalam regulasi sekarang, rezim pemerintahan sekarang (Jokowi-JK) itu seperti tukang potong atau tukang kutip rakyat.

“Banyak penarikan uang dibebankan ke rakyatnya, dan sekarang ini adalah Tapera dengan skema yang dijalankan adalah untuk menarik uang publik yang dilakukan pemerintah,” tuturnya.

Dikatakan Rudi, ini yang harus dilihat lebih jauh dari sekarang yakni bagaimana mengutip beban rakyat yang begitu berat dan kutipan-kutipan ini dasarnya atas nama pembangunan. Rudi mengharapkan Tapera bisa menjadi obat luka sementara kepada rakyatnya untuk mendapatkan perumahan rakyat tapi tidak dibebankan.

“Dari catatan saya, soal nama dan Tapera banyak aspek yang perlu dikritisi lebih dalam hadirnya UU ini. Harusnya tidak sepihak dan libatkan partisipasi masyarakat. Dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah sekarang pembangunan infrastruktur saya kira adalah kutipan rakyat jadi beban ke rakyat. Makin banyak beban dan banyak kutipan-kutipan,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top