Politik

28 Oktober Bawa Agenda Titipan, Kemahasiswaan BEM SI Dipertanyakan

mahasiswa UI

mahasiswa UIBeritaasatu – Barisan Insan Muda (BIMA) mengaku kecewa dengan elemen mahasiswa tergabung Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang merilis survei dan gelar sidang rakyat 28 Oktober mengevaluasi setahun pemerintahan Jokowi-JK ada nuansa agenda terselubung dan titipan politik.

“Mahasiswa harusnya menunjukkan sikap politiknya yang netral yang tetap mewarnai perkembangan politik bukan justru malah membawa agenda terselubung dan terkesan titipan politik,” tegas Sekjen BIMA Syarief Hidayatullah, Minggu (25/10).

Sebelumnya, relawan Jokowi tergabung dalam Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) menilai survei nasional yang dirilis oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) itu cenderung subyektif dan sangat jelas ada muatan politisnya.

“Jika obyektif itu dipaparkan dengan data-data. Sementara ini tidak tanpa ada data apapun,” tegas Ketua Umum DPP Pospera Mustar Bona Ventura, Sabtu (24/10/2015).

Padahal, menurut Mustar, banyak hal gila yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi dalam setahun ini.

“Ini saya menyebutkan sangat gila apa yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi,” ungkap Mustar.

Mustar memastikan jika boleh dianalisa, startingnya tahun depan baru bisa dirasakan betul oleh rakyat karena Jokowi selaku pembuat kebijakannya dalam setahun ini sudah totalitas untuk rakyatnya.

Lebih lanjut, Mustar menyindir hasil survey yang dilakukan BEM SI tersebut. Kata dia, dalam survey itu tidaklah mewakili aspirasi rakyat alias elemen mayoritas.

“Ini bukan dari aspirasi rakyat, dan mahasiswa. Tapi aspirasi titipan politik. Ini ada hidden agenda,” beber dia.

Disebutkan dia, menurut kaca mata Pospera, momentum 28 Oktober ini sangat kental dengan agenda terselubung bersamaan peringatan sumpah pemuda untuk melakukan gangguan pemerintahan.

“Gangguan ini sangat jelas dan bentuknya signifikan,” jelas dia.

Lebih lanjut, Syarief menyarankan agar sikap mahasiswa haruslah netral dan tidak membuat hiruk pikuk perpolitikan Indonesia menjadi buruk. Tugas mahasiswa yang netral hanya memberikan wacana dan suara pembaharuan. Jika ada mahasiswa yang tidak bersikap netral maka kemahasiswaannya perlu dipertanyakan, mahasiswa menjadi agen perubahan dan bukan alat politik partai tertentu.

“Kritisi pemerintahan wajar, tapi menjadi tidak wajar jika kritikan ke pemerintahan itu ada titipan politik,” pungkas Syarief.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top