Hukum

Cetak Sejarah Baru, GEPAK Apresiasi Tipikor Beri Vonis Seumur Hidup Akil Mochtar

AkilJakarta, beritaasatu.com – Pemberantasan korupsi di Indonesia telah mencatatkan sejarah baru. Senin, 30 Juni 2014 kemarin, Akil Mochtar selaku Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dijatuhi pidana seumur hidup.

“Ini adalah vonis seumur hidup pertama dalam pemberian sanksi terhadap terpidana kasus korupsi dalam sepuluh (10) tahun terakhir,” demikian disampaikan Ketua Harian Gerakan Pemuda Anti Korupsi Irfan Maulana, di Jakarta, Selasa (1/7).

Seperti diketahui, Akil dianggap terbukti menerima suap, gratifikasi, dan melakukan pencucian uang sehubungan dengan penanganan sengketa Pilkada di beberapa daerah.

“Ya, ia jelas telah melakukan korupsi dengan memanfaatkan atau menyalahgunakan jabatannya sebagai ketua MK pada saat itu, untuk kepentingannya (memperkaya diri) dan kelompoknya. Selain itu, dengan perbuatannya itu, ia juga telah melakukan salah satu tindakan yang dapat merusak citra Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu lembaga kehakiman tertinggi di Indonesia,” terang dia.

Dijelaskannya, pemberian hukuman seumur hidup kepada Akil ini sangat diapresiasi oleh banyak pihak, seperti KPK dan ICW. Bahkan vonis tersebut dirasa cukup merepresentasikan rasa keadilan karena saat ini banyak lembaga-lembaga hukum yang sudah dimasuki oleh unsur politis dan kekuasaan.

“Dengan pemberian vonis seumur hidup tersebut, diharapkan dapat memberikan efek jera kepada setiap orang sehingga tidak berani melakukan korupsi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irfan menuturkan, dalam pemberian vonis tersebut juga ternyata mengandung pesan moral, khususnya bagi para penegak hukum, dan khususnya MK.

“Pesan moral yang dapat ditangkap dari pemberian vonis tersebut adalah agar jangan sampai terulang atau terjadi lagi korupsi di lembaga penegak hukum, khususnya di Mahkamah Konstitusi,” kata dia.

Menurut dia, terdapat satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari kejadian ini. pelajaran bermakna tersebut yaitu bahwa bagi siapapun yang hendak berkecimpung dalam dunia politik dan pemerintahan, sebaiknya jangan pernah bermain-main dengan hukum. Singkatnya, kata dia, yaitu agar kita jangan sekali-kali mempermainkan hukum, karena itu sama saja dengan mempermnainkan keadilan, dan akan berhadapan dengan rakyat.

“Vonis ini diharapkan mampu menjadi gerbang awal bagi pemberian hukuman yang adil terhadap koruptor. Sebagaimana kita ketahui bahwa beberapa tahun terakhir ini, tak jarang ada terdakwa kasus korupsi yang akhirnya justru mendapat vonis yang ringan, bahkan ada juga yang lepas dari jeratan hukum,” ujarnya.

Dikatakannya, sebagai salah satu kejahatan kemanusiaan yang juga termasuk kejahatan luar biasa, pemberian hukuman ringan atau bahkan lepasnya koruptor dari jeratan hukum tentunya melukai nilai-nilai keadilan. Untuk itu, vonis seumur hidup bagi koruptor yang diberikan pada Akil Senin lalu diharapkan menjadi awal untuk pemberian hukuman berat bagi pelaku praktik korupsi yang lain agar benar-benar menimbulkan efek jera.

“Hal ini bertujuan semata-mata agar praktik-praktik korupsi tersebut tidak justru membudaya, tetapi malah hilang dari bumi Indonesia ini,” tegasnya.

Maka itu, dirinya mengapresiasi Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang baru saja berhasil membuat sejarah dengan memberikan vonis hukuman seumur hidup terhadap Akil Mochtar. Tak hanya itu, dirinya juga meminta agar vonis semacam itu bisa diberlakukan juga bagi pelaku korupsi yang lain agar ada efek jera.

“Kami meminta pemberian hukuman mati diberlakukan bagi para terpidana kasus korupsi,” pungkasnya. (Ali).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

Banner Meikarta 2

To Top